07 Desember 2016

UANG KULIAH TUNGGAL



Oleh : M.Yudha Iasa Ferrandy
Mata Reality  -  Andai boleh tanya pada teman-teman, apakah tahu hakikat dari Perguruan Tinggi?
Pada dasarnya hakikat dari Perguruan Tinggi adalah Sumber Daya Manusianya, ialah Mahasiswa, bukanlah Kampusnya. Dalam hal ini bukan semata-mata tidak menganggap eksistensi kampus, tapi ada tidaknya bahkan maju atau turunnya sebuah Perguruan Tinggi sangatlah “bergantung” pada kualitas Mahasiswanya. Mengedepankan kualitas Mahasiswa berarti harus siap memfasilitasi kebutuhan dan kepentingannya dalam menggapai ilmu.

21 April 2016

Darurat Kekerasan Seksual, KOHATI Bengkulu Menggelar Aksi Simpatik di Hari Kartini

KOHATI Bengkulu Menggelar Aksi Simpatik di Hari Kartini

“Semangat perjuangan seorang Kartini telah menembus ruang dan waktu. Walaupun sudah lebih satu abad beliau meninggal, namun semangat perjuangan dan karya-karyanya masih terasa hingga saat ini”

Dalam rangka memperingati semangat perjuangan Kartini, kader HMI-Wati Cabang Bengkulu  melakukan aksi simpatik di simpang lima Kota Bengkulu. Walaupun Kartini lebih dikenal dengan perjuangannya lewat tulisan, dengan semangat perjuangan yang sama kader HMI-Wati ini menyampaikan permasalahan sebagai bentuk simpati kepada saudara-saudara perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual. Aksi mereka telah merepresentasikan semangat perjuangan Kartini dalam membela hak-hak perempuan.



Selain membagikan brosur kepada masyarakat, para pejuang perempuan ini juga menyampaikan aspirasi mereka mengenai potret permasalahan perempuan Indonesia yang sudah masuk dalam zona darurat kekerasan seksual. “Bahwa peduli perempuan sama artinya memperbaiki generasi masa depan. Potret permasalahan perempuan hari ini sebagai sebuah refleksi bahwa kita perlu memiliki hukum yang jelas, yang tidak hanya menjadi pajangan semata. Karena saat ini, Bengkulu sudah masuk pada darurat kekerasan seksual.” Teriak salah satu orator, Widiana.

Selain itu, mereka juga menyuarakan mengenai kasus pemerkosaan yang terjadi di salah satu daerah di Provinsi Bengkulu. “Kasus remaja SMP di Dusun 5 Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT) Rejang Lebong, beberapa hari yang lalu diperkosa 14 orang hingga meninggal. Kemudian mayatnya dibuang ke jurang sudah cukup menjadi bukti  bahwa Perda Kota Bengkulu tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak tidak pernah serius untuk dijalankan. Lantas inikah yang ingin disebut kota layak anak, kota layak untuk perempuan?” Lanjut Trisnawati dengan mata berkaca-kaca.

Dalam aksi ini, fokus KOHATI Cabang Bengkulu adalah menyoroti terkait semakin maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi di Bengkulu. Selain itu, mereka juga menyampaikan kasus incest yang sudah semakin mengkhawatirkan. “pada peringatan ini, saya menyampaikan bahwa sesungguhnya penghormatan Negara dan penghormatan social pada perempuan masih sangat artisifal. Semuanya disimplifikasi atas nama suka sama suka, atau bahkan mengutuk perempuanlah yang sejatinya salah, sehingga semunya hanya menguap saja tanpa tindak lanjut yang jelas”, sahut Kurniana selaku Ketua Umum Kohati Cabang Bengkulu.
Selain kasus kekerasan pada perempuan, saat ini berdasarkan data dari WCC, Bengkulu berada pada urutan teratas kasus incest. Tak mau melewatkan moment, kasus eksploitasi anak yang semakin marak juga menjadi argument pada orasi kartini – kartini muda ini.

Di akhir aksi simpatik, mereka menyampaikan beberapa pernyataan sikap sebagai berikut :
1. Mendukung perjuangan kaum perempuan  disetiap wilayah Indonesia dan mendukung pemberlakuan Perda Kota Bengkulu tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak;
2. Mendesak dihentikannya praktek kekerasan dan pelecehan seksual, maupun pemberitaan yang berpotensi mendeskreditkan dan melestarikan kekerasan seksual terhadap perempuan;
3. Mendesak pemberlakuan pendampingan hukum terhadap korban Incest;
4. Mendesak aparat pemerintahan untuk meningkatkan pengawasan dan menindak tegas pelaku eksploitasi anak.

Inilah beberapa tuntutan yang mereka sampaikan, kemudian aksi diakhiri dengan menyanyikan lagu kartini dan darah juang. Semoga aksi yang digelar tepat pada hari Kartini ini, tidak hanya berakhir di pinggir jalan. Tetapi dapat menjadi perhatian dan koreksi bersama mengenai salah satu permasalahn besar yang sedang dihadapi oleh perempuan. 
(Red: Kr. Edtr:Nm)

25 November 2014

Semua yang terjadi dan yang terlewati


By. Fachrur Rozi Setiawan

tak terasa waktu terus berputar
kehidupan terus berjalan
roda kehidupan terus berputar
pikiran masih berkelana

kesenangan masih ku dambakan
kesedihan masih tak kuinginkan
perasaan masih merasakan
kehidupan terus berjalan

jalan telah kutemukan
jalan telah kuketahui
sang Hijau terus berjalan
sang hitam masih melekat dalam diriku

semua perasaan
cinta,kesedihan,kegembiraan
kesendirian,kebersamaan
kebimbangan,ketakutan
keberanian
 
semua masih berjalan

sampai kapan aku berjalan
terus berlari dalam kehidupan


09 Oktober 2014

"Senja"

Langit sore seakan mengajakmu bercengkrama untuk membagi cerita tentang sebuah kedamaian...
Pipit kecil berterbangan disela sela senjanya hari, kicauannya nan harmoni tersusun membentuk melodi...
Deruh angin menyisir menusuk relung hati, menyejukan jiwa, menentramkan amarah...
Suara rutinitas perlahan lahan redup ditelan senjanya malam, meredam semua perbedaan...
Inilah keindahan alam...
Kedamaian yg tlah tersugukan...
Inilah keindahan dunia...
Sepotong kebahagiaan yang tlah terlupakan...

11 April 2014

Konsep keadilan dalam hubungan relasi rumah tangga



Konsep keadilan dalam hubungan relasi Rumah Tangga
(dalam perspektif peran dan fungsi laki-laki dan perempuan ditinjau dari sisi kontruksi sosial masyarakat)
Oleh: Siami Maysaroh*




Keadilan adalah hak semua manusia! Ya.. manusia. Baik dia peremuan ataupun laki-laki, mereka punya hak keadilan yang sama sebagai manusia.

Kita semua sepakat bahwa keadilan harus ditegakan atas upaya pencapaian rasa nyaman menuju sebuah tujuan bersama yaitu kesejahteraan bagi seluruh manusia. Namun kita juga tidak menisbikan realitas atas adanya keberbedaan antara keadilan yang seharusnya ada. Beberapa orang bersepakat bahwa keadilan adalah sebuah bentuk kesamaan yang jelas secara materil antara laki-laki dan perempuan. Sementara beberapa lainnya bersepakat bahwa keadilan adalah adanya sebuah bentuk pemenuhan kebutuhan yang sesuai (berdasarkan pada asas kebutuhan) antara laki-laki dan perempuan. Berangkat dari konsepsi keadilan yang masih berbeda inilah kemudian hadir sebuah kondisi dimana antara laki-laki dan perempuan belum mendapatkan keadilan dalam konsepsi mereka masing-masing.
Hal ini juga terjadi dalam hal perwujudan keadilan dan kesetaraan gender sebagai asas dalam pemenuhan hak asasi manusia, yang ternyata hanya dapat tercapai bila pengetahuan mengenai konstruksi social atau gender, pengalaman ketubuhan perempuan, sudut pandang, kebutuhan dan kepentingan perempuan terintegrasi dalam keseluruhan tatanan pengetahuan. Situasi sosial budaya terkait relasi gender menunjukkan bahwa perbedaan jenis kelamin (biologis) diinterpretasi secara sosial melalui mitos sosialisasi, budaya, kebijakan pemerintah, dan hukum serta praktik yang lebih menguntungkan laki-laki, sekaligus tidak adil bagi perempuan, yang antara lain dapat dilihat dari stereotip atau pelabelan negatif, subordinasi, peminggiran atau marjinalisasi, beban majemuk, dan kekerasan berbasis gender yang menjadikan perempuan sebagai korban kebanyakan.
Hal ini kemudian berdampak pada hubunganan relasi Rumah Tangga yang tidak tepat dalam kesepakatan sebuah pandangan, yang seringkali menimbulkan konsep hirarki structural yang menempatkan struktur juga kedudukan masing-masing peran secara berbeda, dan cenderung mengabaikan fungsi bahwa keberadaan kerja-kerja Rumah Tangga adalah untuk mencapai sebuah  visi yang sama, bukan untuk menyatakan dominasi atas satu peran kepada peran lainnya.  
Fenomena yang seringkali terjadi hari ini adalah bagaimana penempatan peran dan fungsi seorang ibu atau istri dalam rumah tangga dianggap lebih rendah dari peran ayah atau suami yang bekerja dan mendapatkan upah secara materil dan dianggap sebagai titik ukur dalam pemenuhan kebutuhan Rumah Tangga. Anggapan atas keistimewaan laki-laki sebagai pemilik kuasa tertinggi sebagai seorang pencari nafkah inilah yang kemudian menimbulkan penyingkiran kerja perempuan baik sebagai istri atau ibu. Bahwa kerja perempuan dalam relasi Rumah Tangga disini dianggap sebagai peran kedua karena fungsi domestik yang dijalankannya tidak mendapatkan upah atau gaji secara materil seperti halnya laki-laki.
Namun, mari coba kita evaluasi kembali, bahwa kerja-kerja antara perempuan dan laki-laki dalam hubungan relasi Rumah Tangga disini tidak dapat berdiri sendiri dan dipisahkan begitu saja. Bahwa keduanya adalah sebuah kesepakatan dan komitment untuk membangun sebuah visi atau tujuan secara bersama, bukan perorangan.
Sebuah evaluasi Rumah tangga, menyeret analisa saya pada fenomena menarik mengenai relasi Rumah Tangga. Kesepakatan dalam sebuah bangunan relasi Rumah Tangga ternyata menghadirkan konsepsi keadilan baru dalam konteks relasi Rumah Tangga. Sebuah bangunan yang sederhana namun tidak dapat dipisahkan begitu saja dalam kontruksi bangunan sebuah relasi tersebut. Konsep sederhana tersebut saya analogikan dalam sebuah cerita berikut:
Bahwa setiap bulan, Saya anggaplah sebagai seorang suami menyerahkan hasil kerja saya dikantor kepada istri saya. Dan saya katakana kepada istri saya, bahwa ini adalah gaji kita ma. Meski hanya saya yang secara fisik hadir dan bekerja dikantor sedangkan istri saya dirumah. Namun ini adalah hasil kerjasama kami sebagai relasi Rumah Tangga. Karena begini, kalo saya tidak dibantu oleh istri saya dalam menyelesaikan urusan rumah seperti memasak sarapan sebelum saya kekantor, memncuci baju yang saya gunakan untuk kekantor atau kerja-kerja domestic lainnya, maka saya jelas tidak bisa kerja kekantor sehingga dapat menghasilkan uang atau gaji seperti ini.
Sebenarnya ini adalah gambaran dari sebuah impian saya tentang sebuah bangunan relasi Rumah Tangga. Karena secara tegas saya menolak konruksi sosial masyarakat hari ini mengenai Ibu Rumah Tangga. Status Ibu Rumah Tangga selama ini dianggap sebagai status yang tidak berstatus, maksusdnya diabaikan dan tidak dianggap penting oleh masyarakat. Padahal bisa kita lihat dari analogi yang saya gambarkan sebelumnya, bahwa setiap anggota Rumah Tangga membangun keberdayaan!, artinya tidak hanya keberdayaan diri sendiri sebagai suami atau istri yang digunakan namun kerjasama atas keberdayaan tersebutlah yang menciptakan keadilan dalam sebuah relasi Rumah Tangga.
 Dapat kita temukan sebuah simpulan bukan? bahwa kita seharusnya membangun sebuah konsepsi keadilan pada sebuah relasi suatu Rumah Tangga, yaitu dalam bentuk kerjasama antara seorang suami dengan seorang istri dalam hal kesepakatan pemenuhan kebutuhan Rumah Tangga. Konsep yang terbangun adalah bukan mengenai hak pribadi antara laki-laki dan perempuan, namun yang terbangun adalah sebuah konsep pemenuhan hak bersama dalam relasi hubungan Rumah Tangga sebagai suami dan istri tanpa mengabaikan hak laki-laki dan perempuannya sebagai manusia yang dalam hal ini memiliki kebebasan dan hak atas penghargaan kerja dan hak sebagai manusia yang memiliki peran fungsi masing-masing dalam eksistensinya sebagai manusia untuk mencapai tujuan bersama yang mensejahterakan kedua-duanya. Bukan hanya laki-laki. Bukan juga hanya perempuan semata.
Keadilan relasi Rumah Tangga, ada soal pembagian ruang kerja atas dasar kesadaran diri laki-laki dan perempuan. Maka perlu disadari bangunan kesadaran yang digunakan adalah sebuah bangunan kesadaran yang berkeadilan dan berkesetaraan.

        Tulisan ini didedikasikan untuk mereka para perempuan yang memilih peran dirinya sebagai seorang Ibu Rumah Tangga.


*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Komunikasi, FISIP di Universitas Bengkulu

28 Maret 2014

Kecaplah sifatKu



Oleh : Kurniana

Ada yang Maha dekat namun seakan berlalu
Semenyatu dengan urat lehermu
Semesra detak jantung yang setia tanpa kau perintah
Dan segala yang membuatmu membuncah
            Kau kata Aku jauh disana,diatas sana
            Duduk?
            Yaa,,semua muanya,segalanya
            Sampai matamu tak berkedip sekalipun, jangan timbang gunung kataKu
            Aku tak mirip segalanya dengan mereka
            Cukup rasaKu,cukup sayang  dan kasih yang harus kau banjirkan
            Kau akan kenal sifatKu,
            Dan kau tau?
            Seisi dunia akan membelaimu dengan ramah
Usahlah kau ingin raut kekal
Karena kau hanya kehidupan, kehidupan dari yang hidup
Cukup berdamai dengan kasih,
Cukup pejamkan dan menyayanglah,sampai kehidupanmu dialihkan
Sampai matamu Aku kedipkan kekal
Karena Aku tidak tidur,bahkan mengantuk sekedip pun
            Lalu kau tertawa dengan bodohnya!
            Muslihatmu mencemari hatimu…
            Mengapa kau ternakkan tradisi jahilimu?
            Kuberitahu,
            Kuingatkan,
            Kuperingatkan!
            Kecaplah sifatKu.
           
           



TRENDING TOPIK

Pentingnya Organisasi Kepemudaan dalam Membangun Bangsa

Organisasi kepemudaan memiliki peran yang sangat penting dalam membantu pelembagaan kepemudaan dan memperkuat identitas nasional di Indonesi...